UMKM

Dari Dapur Sederhana di Pilolalenga, Kue Sukade Menjaga Tradisi dan Menyemai Harapan

Di dapur kecil, Sartin Sahidu terus menyalakan tungku setiap hari. Di antara bara api dan adonan kue, ia menjaga tradisi sekaligus menanam harapan. Bahwa suatu saat nanti, kue Sukade dari Pilolalenga tak hanya dikenal sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai jalan menuju kesejahteraan bagi dirinya dan masyarakat sekitar.
Gorontalokab - Selasa, 27 Januari 2026, 10:25 WITA
Liputan: Irfan Mohamad Editor: Zulkifli Mile
Dari Dapur Sederhana di Pilolalenga, Kue Sukade Menjaga Tradisi dan Menyemai Harapan

DUNGALIYO, DISKOMINFO — Asap tipis dari tungku kayu perlahan mengepul di sebuah dapur sederhana di Desa Pilolalenga, Kecamatan Dungaliyo. Di tempat itulah Sartin Sahidu, seorang ibu rumah tangga, menekuni rutinitas yang telah ia jalani selama bertahun-tahun. Ia meracik adonan, menjaga bara api, dan memastikan setiap kue Sukade matang dengan sempurna. Dari dapur kecil itu pula, sebuah warisan rasa Gorontalo terus dijaga agar tak lekang oleh waktu.

Bagi Ibu Sartin, kue Sukade bukan sekadar panganan. Ia adalah bagian dari ingatan kolektif masyarakat Gorontalo, hadir dalam penyambutan tamu, prosesi adat, hajatan keluarga, hingga kegiatan keagamaan. Setiap potong kue menyimpan cerita tentang tradisi, kebersamaan, dan nilai-nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Proses pembuatannya pun nyaris tak berubah. Tungku tradisional tetap menjadi andalan, menggantikan kompor modern yang dianggap dapat mengubah cita rasa. Tangan-tangan terampil mengolah adonan dengan cara sederhana, seolah menjadi penghubung antara masa lalu dan masa depan. Di sanalah keaslian kue Sukade dijaga, bukan hanya dari rasa, tetapi juga dari makna yang dikandungnya.


Seiring waktu, permintaan terhadap kue Sukade terus meningkat, terutama saat musim hajatan dan acara adat dan peringatan hari besar keagamaan. Dari situ, harapan mulai tumbuh. Selain Sukade, Ibu Sartin juga memproduksi kue Kolombengi, kue adat Gorontalo lainnya yang semakin diminati. Usaha rumahan yang bermula dari kebutuhan keluarga kini perlahan menjelma menjadi tumpuan ekonomi.

Namun, di balik aroma kue yang menggoda, terselip harapan besar. Ibu Sartin bermimpi usahanya kelak dapat berkembang lebih jauh dengan peralatan yang lebih baik, kemasan yang lebih layak, dan jangkauan pemasaran yang lebih luas. Bukan semata untuk memperbesar usaha, tetapi agar tradisi ini tetap hidup dan memberi manfaat bagi banyak orang.

“Kalau usaha ini bisa berkembang, saya ingin ibu-ibu di sekitar sini bisa ikut bekerja. Supaya sama-sama punya penghasilan,” ucapnya pelan, penuh harap.

Dukungan mulai hadir. Bantuan dari Pemerintah Provinsi Gorontalo dan Pemerintah Desa Pilolalenga sebelumnya telah membantu menjaga keberlangsungan usaha ini. Ke depan, perhatian dari Pemerintah Kabupaten Gorontalo diharapkan dapat semakin menguatkan langkah UMKM tradisional seperti milik Ibu Sartin.

Pemerintah daerah memandang UMKM kuliner berbasis kearifan lokal sebagai fondasi penting ekonomi kerakyatan. Pada tahun 2026, sektor ini diproyeksikan menjadi salah satu penggerak utama ekonomi desa, sekaligus benteng pelestarian budaya daerah.

Harapan serupa juga datang dari Ketua TP PKK Kecamatan Dungaliyo, Reflin Anton Nini Panani. Ia mendorong agar pelaku UMKM tradisional mendapatkan perhatian yang lebih konkret. TP PKK Kecamatan Dungaliyo bersama pemerintah kecamatan siap berkolaborasi dengan pemerintah desa serta mengupayakan dukungan Dekranasda Kabupaten Gorontalo untuk pengembangan dan promosi kue Sukade sebagai kue adat khas Gorontalo.

Beranda Berita Dokumen Layanan Info
Aksesibilitas
Besar
Jumbo
Abu-abu
Kontras