Selayang Pandang

Sejarah

Sejarah mencatat jazirah Gorontalo terbentuk kurang lebih 400 tahun lalu dan merupakan salah satu kota tua di Sulawesi selain Kota Makassar, Pare-pare, dan Manado. Gorontalo kala itu menjadi salah satu pusat penyebaran agama Islam di wilayah Indonesia bagian Timur yang meliputi kewilayahan Ternate – Gorontalo – Bone. Posisi geografis Gorontalo memang strategis karena karena letaknya yang strategis menghadap ke Teluk Tomini (bagian selatan) dan Laut Sulawesi (bagian utara).

Adanya aktifitas penyebaran agama telah menyebabkan peradaban masyarakat Gorontalo dan sekitaranya meningkat, utamanya di bidang pendidikan dan perdagangan yang akhirnya meluas ke wilayah Bolaang Mongondow di Sulawesi Utara, Buol Toli-Toli, Luwuk Banggai dan Donggala di Sulswesi Tengah bahkan sampai ke Sulawesi Tenggara.

Penetapan wilayah Kabupaten Gorontalo awalnya berdasarkan pada Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959 tentang Pembentukan Daerah-Daerah Tingkat II di Sulawesi dengan ibu kota di Isimu yang kemudian pada tahun 1978 ibu kota tersebut dipindahkan ke Limboto. Maka Berdasarkan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959 tersebut secara keseluruhan wilayah Gorontalo (termasuk Kabupaten Gorontalo) menjadi bagian wilayah Sulawesi Utara.

Pada tahun 2000 Gorontalo menjadi daerah otonomi baru karena adanya pembentukan Provinsi Gorontalo yang ditetapkan melalui Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2000 tentang Pembentukan Provinsi Gorontalo.