Pariwisata

1. Masjid Agung Baiturrahman

Sejarah awal berdirinya Masjid Agung Baiturrahman Limboto tidak lepas dari sejarah perkembangan Islam di daerah ini. Agama Islam masuk di Gorontalo pada tahun 1300 Masehi dan mengalami perkembangan pada tahun 1490an.

Masjid Baiturrahman terletak di Pusat Kota Limboto dibangun pada tahun 1630 M yang awalnya merupakan sebuah langgar dengan material bangunan sederhana berupa telur sebagai perekat atau spesi. Saat itu masyarakat di daerah ini belum dikenal semen.

Pada tahun 1940, terjadi gempa bumi yang dahsyat di wilayah Gorontalo sehingga menyebabkan bangunan langgar mengalami kerusakan berat. Paerbaikannya pun barulah berlangsung lama, yakni dilakukan pada tahun 1946, yakni sekitar empat tahun wilayah Gorontalo lepas dari penjajahan Belanda pada tahun 1942. Kala itu masjid Agung Baiturrahman dinamai Masjid Jami Limutu.

Pemerintah Kabupaten Gorontalo dibawah kepemimpinan Bupati Kasmat Lahay pada Tahun 1975 selanjutnya melakukan renovasi bangunan masjid ke dua kalinya. Dana renovasi bersumber dari bantuan Presiden RI, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, serta dari berbagai kalangan masyarakat yang diberikan dalam bentuk material.

Prasasti peresmian ditanda-tangani Presiden Soeharto dan mulai saat itu Masjid Jami Limutu berganti nama menjadi Masjid Agung Baiturrahman Limboto.

 

2. Pakaya Tower

Menara Pakaya dibangun tepat di pusat ibu kota pada tahun 2001 (masa kepemimpinan Bupati Ahmad Pakaya). Pada awalnya destinasi wisata yang memiliki ketinggian 65 meter dengan desain lima lantai ini dikenal dengan nama Menara Keagungan. Obyek ini biasanya dikunjungi masyarakat untuk menikmati keindahan alam lepas disektiranya, utamanya menikmat hamparan Danau Limboto dan pegunungan yang melatarinya.

Pada lantai pertama terdapat auditorium yang cukup luwas dan disewakan untuk pertemuan-pertemuan, dan beberapa lantai selanjutnya dapat disaksikan taman kota yang asri, taman bermain anak, dan taman hiburan rakyat.

Puncak Menara Pakaya juga dimanfaatkan sebagai corong Masjid Agung Baiturrahman Limboto untuk mengumandangkan adzan shalat lima waktu dan menjadi wadah untuk mengumumkan kegiatan kemasyarakatan.

 

3. Rumah adat (Banthayo Pobo’ide)

Banthayo Poboide merupakan bentuk paripurna rumah tradisional/rumah adat Gorontalo. Seluruh bagian bangunan terbuat dari kayu pilihan yang dapat bertahan berabad-abad lamanya. Masa pemerintahan raja-raja, Banthayo Poboide dimanfaatkan sebagai pusat informasi atau balai pertemuan untuk pelaksanaan musyawarah adat dan pusat pemerintahan.

Seiring dengan berkembangnya peradaban saat ini rumah adat dijadikan sebagai pusat pelestarian dan pengembangan budaya dan seni.
4. Desa wisata religi

Di Kabupaten Gorontalo terdapat taman wisata religi ‘Bubohu’, berada di bagian Selatan yakni di Kecamatan Batudaa Pantai. Masyarakat di desa ini setiap tahun menyelenggarakan ritual keagamaan yang senantiasa diwarnai dengan festival ‘Walima’, yakni bertepatan dengan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Penyelenggaraan festifal mengangakat budaya daerah yang bernafaskan adat bersendikan sara’_ sara’ bersendikan kitabullah (adati hula-hula’a to sare’ati, sare’ati hula-hulaa to kitabullah).

Sedangkan ‘Walima’ merupakan penganan-penganan kering ringan (beragam bentuk kue) yang disusun rapi dan ditempatkan pada sebuah wadah yang dihiasi. Hal ini menjadi pertanda syukur atas karunia Ilahi atas anugerah yang diberikan sehingga dapat dirasakan bersama oleh seluruh warga dan tamu yang berkunjung menyaksikan perayaan maulid Nabi SAW.

 

5. Danau Limboto

Danau Limboto kini memiliki luas + 3.000 hektar berada di Kota Limboto dan mengitari beberapa sudut kecamatan seperti wilayah kecamatan Telaga Biru, Tilango, Telaga Jaya, Batudaa, dan Tabongo. Fenomena alam yang terbuka dan aktifitas para nelayan sejak pagi hingga kala petang senantiasa mewarnai kehidupan Danau Limboto.

Danau alami ini memang memberi daya tarik sendiri dan sering digunakan setiap pengunjung utamanya pada sore hari. Mereka menikmati pantulan cahaya jingga yang kanopi-kanopi dari langit (gumpalan awan). Dari arah timur bisa disaksikan saat-saat sunset dikala cuaca cerah.
6. Kawasan Obyek Wisata Pentadio Resort

Pentadio Resort merupakan destinasi wisata terpadu yang menyediakan berbagai fasilitas untuk memanjakan setiap pengunjung. Seperti, sauna, mandi celup, kolam renang standar intenasional, kolam renang anak, arena pemancingan dan sepeda air, pub dan karaoke.

Ditempat ini juga dibangun National Vilage, yang menyediakan beragam hidangan dari berbagai nusantara yang dapat dikunjungi setiap saat karena berada dibagian kiri areal pintu masuk.

Pada bagian dalam kawasan obyek wisata terdapat lesehan-lesehan dan cottage. Pentadio Resort berada satu kawasan dengan obyek wisata Danau Limboto yang bisa ditempu dalam waktu 5 – 10 menit dari pusat kota Limboto.
7. Pantai Tawula-a

Pantai Tawulaa berada dibagian barat, yakni di Kecamatan Bilato. Pantai ini memiliki pasir putih dan air laut yang jernih, tenang dengan posisi membentuk teluk. Lokasi ini tak bosan-bosannya menyuguhkan pemandangan indah dan mengagumkan bagi setiap orang yang mengunjuginya.
8. Taman Laut Biluhu Timur

Obyek wisata ini merupakan destinasi wisata pantai yang terletak di Kecamatan Batudaa Pantai. Dari pusat kota di Limboto, areal ini dapat ditempuh kurang lebih 45 menit perjalan, baik berkendaraan roda dua maupun berkendaraan roda empat. Obyek ini menyajikan keindahan taman laut dan beragam biotanya, terdapat pula bangunan cottage yang dapat dimanfaatkan pengunjung untuk beristirahat dan menginap.
9. Museum Pendaratan Pesawat Amphibi
    Presiden RI Soekarno.

Lokasi museum berada di Desa Iluta Kecamatan Batudaa atau di dekat perbatasan wilayah Kabupaten Gorontalo dan Kota Gorontalo. Museum pendaratan Soekarno juga terletak di areal Danau Limboto dan pernah digunakan Presiden Soekarno untuk mendaratkan pesawat Amphibi yang ditumpanginya saat berkunjung ke Gorontalo.

Kawasan ini ditata dengan baik dan sering dikunjungi masyarakat lokal, nasional, dan mancanegara yang ingin mengetahui lebih dalam tentang cerita kunjungan Presiden Soekarno kala itu.
10. Pemandian Taluhu Barakati

Obyek wisata Taluhu Barakati (air berkah) berada di desa Barakati Kecamatan Batudaa. Disini terdapat satu sumber mata air yang dipercayai sebaghagian masyarakat setempat memberikan berkah. Dari cerita tetua-tetua di desa ini, Raja Panipi memandikan pasukannya di mata air taluhu barakati sebelum bertempur ke medan laga.
11. Suaka Margasatwa Nantu

Suaka margasatwa Nantu merupakan kawasan hutan konversi dengan beragam tanaman bermanfaat dan dihuni aneka ragam satwa endemik khas Sulawesi.
Terindentifikasi ada 38 jenis tanaman di dalamnya, termasuk 4 jenis tanaman endemik Sulawesi, 7 jenis tanaman obat dan 5 jenis tanaman pangan di dalamnya. Sedangkan satwa, juga terindentifikasi terdapat 13 jenis hewan yang antaranya terdiri dari 6 jenis endemik Sulawesi, dan 4 jenis satwa yang dilindungi.

Jenis tanaman yang terdapat di dalam kawasan hutan Natu antaranya, Elmerillia Ovalis, Pterospermum Celebicium, Averrhoa Bilimbi, Dracontomelon Dao, Arenga Pinnata, Amaranthus SP.

Untuk jenis satwa, antara lain; Macaca Heckii. Babyrouse, dan Prociurillus Murinus.

Lokasi suaka margasatwa Nantu berada di Kecamatan Asparaga Kabupaten Gorontalo.