Galeri Daerah

Untuk menetapkan tujuan dan sasaran pembangunan daerah dalam kurun waktu lima tahun ke depan, perlu dilakukan analisa lingkungan yang mempertimbangkan seluruh faktor lingkungan internal yang terdiri atas kekuatan dan kelemahan, serta faktor lingkungan eksternal yang terdiri dari peluang dan ancaman yang dihadapi oleh Pemerintah Kabupaten Gorontalo.Untuk dapat menentukan isu strategis, perlu dirumuskan kekuatan (strength), kelemahan (weakness), peluang (opportunity) dan ancaman (theats) sebagai berikut:

a. Kemiskinan

Problem utama yang sangat mendesak untuk diselesaikan oleh pemerintah daerah tahun 2016-2021 dengan prosentase penduduk miskin tertinggi di Propinsi Gorontalo, maka perlu meredesain kebijakan penanggulangan kemiskinan ke arah yang lebih fokus, terukur, pasti dan holistik. Hasil deteksi terkait konsentrasi penduduk miskin berada pada lapangan kerja sektor pertanian sub sektor tanaman pangan. Hal ini ditunjukan oleh oleh nilai tukar petani yang < 100. Maka, kebijakan di sub sektor ini perlu di kembangkan pada upaya-upaya nyata.

b. Pengangguran

Disamping kemiskinan, masalah serius yang dihadapi oleh Kabupaten Gorontalo adalah masih tingginya angka pengangguran > 4%. Persoalan pengangguran sangat terkait dengan akses lapangan kerja, keterampilan dan keahlian pencari kerja, sementara akses sangat ditentukan oleh besarnya investasi. Pertumbuhan investasi yang cenderung kecil seperti di alami Kabupaten menghasilkan efek pada penyerapan tenaga kerja. Kedepan hal ini akan menjadi salah satu agenda penting kebijakan Kabupaten Gorontalo.

c. Indeks gini ratio cukup tinggi

Kesenjangan antara kaya dan miskin yang digambarkan melalui angka indeks gini sangat tinggi > 0.45 pada tahun 2015. Angka tersebut menunjukan masih lebarnya slope antara kaya dan miskin di Kabupaten.

d. Indeks Pembangunan Manusia

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Gorontalo cenderung rendah, jika dibandingkan dengan daerah mekaran seperti Kabupaten Bone Bolango, disampng Kota Gorontalo. IPM Kabupaten Gorontalo hanya berada di urutan ke 3 diantara kab./kota se-Gorontalo. Hal ini menunjukan bahwa tanggung jawab pemerintah kedepan sangat berat untuk meningkatkan angka IPM yang merupakan komposit dari pembangunan pendidikan, kesehatan dan ekonomi

e. Angka Kematian Ibu

Tingginya angka kematian ibu menunjukan bahwa besarnya tanggung jawab peemerintah dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di Daerah. Karena angka kematian Ibu merupakan salah satu indicator kinerja utama sector kesehatan yang drive oleh pemerintahan.

f. Kemandirian Fiskal Daerah

Seperti halnya daerah lain di Propinsi Gorontalo, Kabupaten Gorontalo memiliki kemandirian fiscal daerah yang relative kecil. Ukuran kemandirian adalah Nampak pada rasio antara Pendapatan Asli Daerah dengan Dana Perimbangan. Kondisi nyata menunjukan Pendapatan Asli Daerah lebih kecil disbanding dengan pendapatan daerah yang bersumber dari dana perimbangan. Kedepan, upaya-upaya nyata terkait dengan income generating melalui sumber-sumber Pendapatan Asli Daerah menjadi salah sati focus kebijakan. Meskipun di satu sisi, fenomena resentralasasi di Indonesia telah memperkecil ruang gerak pemerintah untuk melakukan intensifikasi dan extensifikasi penerimaan.

g. Belum terpenuhinya pencapaian SPM

Fungsi-fungsi pemerintahan (daerah) dapat digolongkan dalam 4 kelompok yaitu : penyediaan pelayanan, pengaturan, pembangunan, dan perwakilan. Fungsi penyediaan pelayanan-pelayanan berorientasi pada lingkungan dan kemasyarakatan. Pelayanan lingkungan mencakup antara lain jalan-jalan daerah, penerangan jalan, pembuangan sampah, saluran air limbah, pencegahan banjir, pemeliharaan taman dan tempat rekreasi. Selain itu pelayanan medik dan kesehatan juga merupakan pelayanan minimal disamping sarana dan pendidikan. Hampir seluruh fungsi tersebut belum menunjukan pencapaian standar pelayanan minimum.

h. Pencapaian SDGs

MDGs di Kabupaten Gorontalo masih menyisakan pekerjaan yang berat dan jumlahnya banyak. Kegagalan dalam pencapaian indikator MDGs di Kabupaten Gorontalo, mengartikan bahwa pekerjaan tersisa yang harus dituntaskan melalui capaian SDGs menjadi lebih besar. Karena beberapa indicator dalam MDGs tidak tercakup kedalam indikator SDGs.

i. Reformasi birokrasi

 

Persoalan yang cukup serius untuk menjadi agenda penting diselesaikan pada kepemimpinan mendatang adalah melaksanakan Reformasi Birokrasi. Fokus reformasi pada cultural sett, mind sett dan system sett. Pada asepek cultural sett adalah terkait dengan budaya kerja yang masih berorientasi input (anggaran, kehadiran) dan belum pada orientasi output (luaran) dan outcome (hasil). Pada asepek mid sett yang sangat mendesak dirubah adalah pengetahuan, pemahaman, dan daya tanggap serta tanggung jawab pada tugas. Persoalan kuncinya adalah masih rendahnya komitmen ASN terhadap tugas dan tanggung jawab. Sedangkan pada system sett hal yang paling mendasar di rubah adalah pada pola rekrutmen jabatan yang menganut spoil system (pendekatan kerabat dekat, keluarga, dan senioritas). Sementara merit system pola rekrutmen berdasarkan prestasi, kapabilitas, dan reputasi kinerja belum diterapkan sepenuhnya.

Limboto Techno Science Park

Lokasi PPN (Pekan Penghijauan Nasional) ke-32 kini dikembangkan menjadi kawasan multi fungsi. Bupati Nelson Pomalingo merancang kawasan ini sebagai Limboto Techno Sains Park.

Mobile Gemilang

Tahun 2017 tim Pemda Kabupaten Gorontalo mengunjungi desa-desa terpencil di seluruh kecamatan. Sasarannya untuk mendekatkan pelayanan publik bagi masyarakat.

Beasiswa Pendidikan

Untuk mendorong output pendidikan sekaligus mendorong kualitas ASN, Pemda Kabupaten Gorontalo menggelontorkan dana beasiswa bagi ASN ke jenjang S1. Tak main-main, tanggungan pendidikan bisa mencapai 100%.

Go to top